Kenapa Harus Alquran ?

Oleh : Zaky Ihyauddin

Ketika kita memutuskan diri untuk meniti jalan petunjuk, yaitu Islam. Maka sebuah keharusan bagi kita untuk mematuhi apa yang ada di dalamnya. Sebuah kewajiban yang berakibat fatal ketika kita meninggalkannya. Islam agama petunjuk ini mengajarkan kepada kita bagaimana menjalani kehidupan di dunia ini.

Rosulullah SAW bersabda : “telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesat selamanya. Kitabullah (Alqur’an) dan sunnahku”.

Ya. Al qur’anlah solusi untuk mengarungi samudera kehidupan ini. Al qur’anlah yang setiap hari harus kita buka, baca, dan kita praktekkan untuk mendapatkan arti dan makna kehidupan, karena ia merupakan hudan linnas, kamus petunjuk kehidupan manusia. Kamus kehidupan yang memuat kata-kata kunci yang sangat bermanfaat dalam berkomunikasi dengan Allah, alam, manusia, dan bahkan dengan dirinya sendiri sebagai makhluk yang terbatas, untuk meraih kualitas ruhani dalam bentuk takwa.

Namun, persepsi, pengetahuan, perilaku kita sekarang ini masih belum sesuai dengan peyunjuk Al qur’an. Al qur’an sebagai kacamata kehidupan dan benteng kehidupan, ternyata tidak difungsikan secara optimal. Kitab yang berumur empat belas abad ini hanya dianggap sebagai “dokumen lama” yang kehilangan ruhnya. Al qur’an menjadi penghuni pojok serambi masjid. Bahkan berada di dalam almari berdebu yang menjadi jimat penolak bala’. Potongam-potongan ayatnya hanya menjadi hiasan dinding rumah dalam bentuk kaligrafi. Lebih dari puluhan kali musabaqah tilawatil qur’an di gelar di Negeri ini. Masing-masing bersaing dari sisi irama bacaan dan keindahan suaranya. Namun, sudahkah kita memahami apa yang dimaksud al qur’an? Benarkah makna-maknanya merasuk kedalam hati kita? Ataukah bacaan kita hanya dapat tersendat di tenggorokan tanpa menembus dinding-dinding hati kita??

Al qur’an bukanlah sebuah buku yang tak bermakna, juga bukan makhluk seperti kita. Akan tetapi al qur’an adalah kalamullah, ia adalah perkataan Allah. Jika demikian, ketika kita tengah memegang mushaf dan membacanya, maka tidak ragu lagi kita sedang diajak berbicara oleh Allah yang Maha Perkasa. Sudah tentu bagi orang-orang yang beriman akan bergetar disaat membacanya. “Apabila di bacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”. (QS. Maryam : 58)

Al qur’an Pedoman Hidup

Kita tidak membantah bahwa Al qur’an tidak aka nada keraguan sedikitpun di dalamnya, “Kitab (Al qur’an) itu tidak ada keraguan di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al baqarah : 2) apabila kita mengambil Al qur’an sebagai petunjuk maka tak ayal kita pasti menjadi pribadi yang bertakwa, termasuk golongan orang-orang yang beruntung mendapatkan kenikmatan abadi, surga. Jadi, tingkah laku, gerak gerik, fikiran, dan desah nafas kita harus menjadi cerminan Al qur’an. Karena Rosulullah shallahu’alaihi wa sallam sendiri seperti yang diceritakan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallhu’anha adalah pribadi qur’ani. Budi pekertinya adalah al qur’an. Budi pekerti yang lawannya pun mengaguminya. Yang menjadikan beliau menuju maqam tinggi di hadapan Allah.

Selain menjadi patokan akhlak yang mesti dipenuhi, al qur’an harus dijadikan sumber hukum sepanjang zaman. Al qur’an memuat hukum-hukum dari yang kelihatannya remeh sampai perkara yang besar. Jangan sampai kita seperti bangsa Tartar yang ngakunya beriman kepada Allah tapi berhukum dengan Al Yatsiq buatan Jenghis Khan. Yang memuat hukum-hukum konyol dalam kehidupannya.

Sungguh perkara ini merupakan perkara yang sangat penting kita perhatikan dan kita laksanakan. Al qur’an bukanlah kitab ritual saja, yang dibaca ketika perkawinan, musyawarah,pengajian, dan acara formalitas lainnya. Namun, Al qur’an haruslah menjadi referensi hukum dalam kehidupan keseharian kita. Karena Allah menurunkan kitan ini untuk menjadi sumber hukum pokok kita, “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al qur’an) kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu…” (QS. An nisa : 105). Allah mengancam bagi siapa saja yang tidak berhukum dengan yang diturunkannya dengan balasan yang menyedihkan. Allah sebut mereka yang tidak berhukum dengan Al qur’an dengan sebutan orang yang kafir, zholim, dan fasiq.

Dan suatu hal yang perlu kita cermati ternyata al qur’an memuat banyak hal-hal yang menakjubkan mulai dari pengungkapan peristiwa masa lampau, ramalan masa depan yang masih misteri, serta bahan kajian ilmu pengetahuan yang memberikan informasi tentang iptek yang semakin hari semakin nyata lewat kajian dan percobaan ilmiah. Sebagai contoh pengamatan atas pegunungan di Nejed (Arab Saudi) oleh Telstar (satelit amerika serikat), yang ternyata diketahui bahwa gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awan, “ Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan”. (QS. An naml : 88)

Akhirnya sebuah keharusan bagi kita untuk menjadikan Al qur’an sebagai pedoman hidup kita di setiap lini kehidupan, untuk meraih ridho Allah Sang Pencipta jagad raya ini. Wallahu a’lam

Pengging, 7 Maret 2014 10:00pm

Be the first to comment - What do you think?
Posted by - March 21, 2014 at 9:35 pm

Categories: Kajian ilmu   Tags:

Mengahafal Al Qur’an Bukan Hanya Sekedar Trend

Oleh : Zaky Ihyauddin*

(Mahasiswa Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Surakarta)

“Sebetulnya menghafal Al-Qur’an itu gampang, nggak susah. Yang penting kita memiliki keinginan untuk benar-benar menjadi penghafal Al-Qur’an”

Begitulah kata Ust. Yusuf Mansur ketika membuka Konferensi Tahfiz Internasional di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang, pada senin 30 September 2013. Tidak ada yang salah dari apa yang diucapkan oleh Ust. Yusuf Mansur -hafidhahullah-, benar adanya dan tidak ada unsur asal ngomong, tidak. Itu adalah realita sekarang yang ada, dimana alqur’an sudah menjamur dimana-mana. Dengan mudahnya kita menemui para penghafal al qur’an, mulai dari anak kecil, remaja sampai kakek-kakek yang bisa menghafalkan al qur’an. Banyak juga lembaga dan yayasan islam yang mendirikan pesantren-pesantren untuk menghafalkan al qur’an (pondok pesantren tahfidzul qur’an) yang bertujuan untuk mencetak para huffadzul qur’an.

Namun di sisi lain, kita banyak dibuat tertegun dan bangga banyak anak-anak seusia SD atau SMP yang mampu menghafal Al-Qur’an, namun tidak tau harus berbuat apa dengan Al-Qur’an itu setelah sekian juz dihafalkannya. Dan lembaga-lembaga yang menyelenggarakan bimbingan menghafal Qur’an-pun sudah mulai menjamur, tanpa mempersiapkan pendidikan lanjutan bagaimana cara mengaplikasikan Qur’an yang sudah dihafalnya tersebut.

Perlu kita renungkan hadist Nabi shallahu ‘alaihi wa salam :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al qur’an dan mengajarkannya”

Dalam hadist Nabi Shallahu alaihi wasallam ini mengisyaratkan kepada kita bahwa hal yang paling utama adalah memahami dan mengamalkan apa yang ada didalam alqur’an.

Ibnul Qayyim rahimahullah saat menjelaskan perihal shalat malam dalam Zaadul Ma’ad membawakan bahasan berikut ini:

“Para ulama berselisih pendapat manakah yang lebih utama, membaca Al Qur’an dengan tartil sehingga sedikit bacaan yang dihasilkan ataukah membaca Al Qur’an dengan cepat dan banyak yang dibaca. Ada dua pendapat dalam masalah ini.”

Menurut Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, juga selain keduanya, membaca Al Qur’an dengan tartil dan penuh tadabbur (perenungan) itu lebih utama daripada membaca Al Qur’an dengan cepat meskipun dihasilkan banyak bacaan. Karena memang maksud membaca Al Qur’an adalah memahami dan merenungkan isinya, juga ditambah dengan bisa mengamalkan kandungannya. Sedangkan membaca dan menghafal Al Qur’an adalah jalan untuk bisa memahami maknanya.

Sebagian salaf mengatakan,

نَزَلَ القُرْآنُ لِيَعْمَلَ بِهِ فَاتَّخِذُوْا تِلَاوَتَهُ عَمَلًا

“Al Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Oleh karenanya, bacalah Al Qur’an untuk diamalkan.”

Makanya, dari dulu yang namanya ahli Al Qur’an adalah yang paham dan mengamalkan isi Al Qur’an (bukan hanya sekedar baca atau bukan sekedar menghafal). Walaupun ahli Al Qur’an di sini tidaklah menghafalkan Al Qur’an. Adapun jika ada yang menghafalkan Al Qur’an namun tidak memahami dan juga tidak mengamalkan isinya, maka ia bukanlah ahli Al Qur’an walau dia piawai mengucapkan huruf-hurufnya.

Firman Allah Subhanahu wa ta’aala :

أفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ القُرْآنَ أمْ عَلىَ قُلُوْبٍ أَقْفَالُهَا

“Apakah mereka tidak merenungkan (mentadabburi) al qur’an ataukah hati mereka telah tertutup” (Muhammad : 24)

Memahami makna yang terkandung di dalam al qur’an sangat bermanfaat bagi hati. Iman akan semakin bertambah apabila hati mendapatkan “gizi” yang cukup. Memahami dan merenungkannya akan membuahkan hati yang selalu condong kepada Allah SWT. Adapun al qu’an apabila hanya dibaca tanpa ada pemahaman dan perenungan (tadabbur), maka itu bisa pula dilakukan oleh orang munafik. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

 “Permisalan orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah rayhanah. Bau buah tersebut enak, namun rasanya pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menghafal Al qur’an bukan hanya sebagai trend, yang setelah selesai menghafalkannya tidak memahami, merenungkan dan mengamalkannya. Akan tetapi menjaga hafalan dan mengamalkan serta mengajarkannya tentu akan lebih bermakna dalam menata kehidupan. Wallahu a’lam

Pengging, 8 Januari 2014 at 10:15pm

Be the first to comment - What do you think?
Posted by - January 18, 2014 at 2:56 pm

Categories: Kajian ilmu, Tulisan Ustadz   Tags:

Next Page »